ARTIKEL | Public Pembaharuan: (1 bulan yang lalu) | dibaca: 39 kali
Gelap.
Krn
Kartini disuruh ngaji tanpa boleh tahu makna yg dibaca dan dikaji.
RA
Kartini bahkan sempat curiga, jangan2 para guru ngajinya juga tidak tahu arti
ayat2 yg dibaca. Sampai2 dia berujar, "gak apa2 deh tdk jadi orang soleh
asalkan jadi orang baik saja."
Padahal
yg sebenarnya terjadi, para ustad itu, mrk tahu, tapi mrk berhati2, karena saat
itu penjajah melarang penterjemahan alQuran.
Jangankan
di Indonesia, bahkan di Amerika pun kitab milik sang penjajah sendiri yaitu
Bible diterbitkan dalam bentuk tipis, namanya Slave Bible alias Bible Budak,
terbitan London tahun 1807. Mereka Takut kalau jutaan budak yg diculik dari
Afrika dan dijadikan budak dan dikristenkan di Amerika akan berontak jika
membaca Bible yg utuh.
Jadi
bagaimana?
Ayat2
yg mengajarkan persamaan hak, ayat2 bahwa di hadapan Tuhan semua manusia itu
sama derajatnya, ayat perjuangan bangsa terjajah, ayat2 hukuman berat unt para
penculik, ayat2 hukuman untuk majikan yg tidak bayar upah budak dst, tidak boleh
dibaca para budak.
Hasilnya,
di dalam Slave Bible, Perjanjian Lama dipotong 90 %, Perjanjian Baru tersisa
tinggal 50%.
Di
Indonesia, alQuran tdk mungkin dipotong atau direduksi, menjadi kurang dari 30
juz atau kurang dari 114 Surat, menjadi Quran yg tipis. Hilang se-ayat pun
orang Islam bisa protes keras.
Yg
bisa dilakukan penjajah Belanda, ya melarang penterjemahan Quran supaya ummat
Islam tidak berontak dan tetap berada dalam kegelapan
Terang.
Setelah
Kartini berjumpa kyai Soleh Darat dalam sebuah pengajian di Demak, barulah dia
Faham arti Surat AlFatehah yg indah.
"Kyai,
selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna Surat AlFatehah,
Surat pertama dan ternyata induk AlQuran. Isinya begitu indah, menggetarkan
sanubariku,"
"Selama
ini Al Fatehah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Namun
sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya,
sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,"
ujar Kartini.
Kartini
kemudian berguru kpd kyai Soleh Darat (sang pelopor penterjemahan Quran ke dlm
bahasa Jawa dg huruf pegon. Ini cara cerdik supaya tdk dicurigai penjajah.
Yaitu menterjemahkan Quran ke dalam bahasa Jawa, ditulis dg huruf Arab, miring
di bawah teks Quran, tapi bunyinya bahasa Jawa. Itulah pegon, yg di Malaysia
sekarang dikenal sebagai tulisan Jawi). Dan akhirnya, Kartini dihadiahi Quran
dg terjemahan, yg baru sampai Juz 13, yaitu dari Surat Alfatehah sampai Surat
Ibrahim.
Tahukah
anda apa arti ayat pertama Surat Ibrahim ?
"AlifLamRa.
Inilah kitab yg Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan
manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya (minadh-dhulumati Ilan Nur - door
duisternis tot licht) dengan izin Tuhan mereka, yaitu menuju jalan Tuhan yg
Maha Perkasa lagi Maha Terpuji."
Kegelapan
itu beraneka ragam, Quran menggunakan kata dhulumati (plurar) bukan dhulmatun
(singular). Cahaya kebenaran Tuhan itu
hanya satu, Quran menggunakan kata Nur (singular), bukan Anwar (plurar).
Dari
Surat pertama AlFatehah sampai Surat ke
14, Ibrahim, paling tidak Kartini telah menjumpai frasa "Door duisternis
tot Licht" (minadhulumati ila nur) 3 kali, yaitu di dalam Surat AlBaqarah 257 dan Surat Ibrahim ayat 1
dan 5. Frasa yg belakangan oleh Armin Pane (1938) diterjemahkan menjadi "Habis
gelap terbitlah terang" ini muncul at least 23 kali dalam seluruh AlQuran.
Tidak
mengherankan jika setelah mengaji kpd Kyai Soleh Darat, bunyi surat-surat
Kartini kepada teman2 pena-nya di Belanda tidak lagi menyuarakan kegelapan.
"Sudah
lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar2 yg terbaik tiada
tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?
Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat
banyak hal yg sama sekali tidak patut disebut peradaban.
Tidak
sekali-kali kami hendak menjadikan murid2 kami sebagai orang setengah Eropa,
atau orang Jawa kebarat-baratan" (Surat unt Ny. Abendanon, 27/10/1902).
"Saya
bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yg selama ini kerap menjadi
sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain
memandang Islam sebagai agama yg disukai." (Surat kpd Ny. Van Kol,
21/7/1902).
Dan
terakhir, dalam suratnya kpd Abendanon, tg 1/8/1903, setahun sebelum beliau
wafat pd 17/9/1904, beliau menulis:
"Ingin
benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah."
Jadi,
mari kita kenang RA Kartini dan kita penuhi harapan beliau sebagai Abdi Allah,
Abdillahh.
Bukan
"sekedar" sbg pejuang emansipasi wanita.
Bogor,
21/4/2026
Abba
AK
Editor: admin111 Published: Sunday, 26 April 2026
Om Abba yang baik dan Dirahmati Allah SWT. Terima kasih banyak atas postingannya mengenai Kartini. Banyak hal yang saya sendiri tidak mengetahui mengenai Kartini. Kalau Kiyai Darat saya juga sedikit mengetahui kemashuran Sang Yayi. Di Masjid saya pernah disampaikan mengenai tulisan Kiyai Darat dalam tulisan Arab berbahasa Jawa. Isinya luar biasa dalam
Sami2 om admin. Saya tulis itu krn saya merasa tiap peringatan hari Kartini, ada sisi yg tak terungkap. Beliau lbh popular disebut sbg tokoh emansipasi, padahal perjuangannya (meskipun singkat) lbh dalam dari itu. Semoga tulisan ringkas itu bermanfaat. Insyaallah Sy akan nyumbang tulisan lagi di waktu2 yad. Tabiik
Syukron um Abba, tulisannya merupakan pencerahan bagi kami2 Kartini jaman now. Disamping mencapai kebahagian dunia yang tidak kalah penting atau malah yang utama mencari ridhoNya utk menggapai kebahagiaan akhirat.. Kartini akhirnya menjadi role model saya
You're in the right place! Just drop us your cv. How can we help?